Beranda / Uncategorized / Sejarah Persib Vs Persija: Rivalitas Satu Abad Sepak Bola Indonesia

Sejarah Persib Vs Persija: Rivalitas Satu Abad Sepak Bola Indonesia

sejarah Persib Vs Persija

Sejarah Persib Vs Persija

Oleh: Analis & Pengamat Sepak Bola Indonesia

11 Januari 2026 kedua tim akan bertemu kembali untuk pertandingan ke 181 yang akan digelar stadion GBLA Bandung. Sebelum itu mari kita lihat sejarah rivalitas kedua klub ini.

Tidak ada pertandingan sepak bola di Indonesia yang memuat sejarah, emosi, politik identitas, dan memori kolektif sedalam sejarah Persib Vs Persija. Ini bukan sekadar derby. Ini adalah narasi satu abad, dimulai jauh sebelum Liga 1 lahir, bahkan sebelum Republik Indonesia berdiri.

Pertemuan Persija dan Persib adalah cermin perjalanan sepak bola nasional: dari era kolonial, perjuangan identitas bangsa, romantisme Perserikatan, profesionalisme Liga Indonesia, hingga dinamika modern Liga 1. Rivalitas ini hidup bukan hanya di lapangan, tetapi juga di ingatan kolektif masyarakat Indonesia lintas generasi.

Artikel ini mengurai sejarah Persib Vs Persija —berbasis arsip, data head-to-head, dan konteks sosial—serta menempatkan rivalitas ini sebagai arsip hidup sepak bola Indonesia, bukan sekadar tontonan 90 menit.


1. Awal Mula: Rivalitas Sejak Zaman Kolonial (1930–1940-an)

Sejarah Persib Vs Persija lahir bukan sebagai klub biasa. Keduanya adalah simbol kota dan identitas pribumi di bawah kolonialisme Belanda.

  • Persija Jakarta lahir dengan nama Voetbalbond Indonesische Jacatra (VIJ)
  • Persib Bandung berdiri sebagai Bandoeng Inlandsche Voetbal Bond (BIVB)

Keduanya menjadi pendiri utama Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) pada 19 April 1930, di bawah gagasan tokoh nasional Soeratin Sosrosoegondo.

👉 Makna historisnya sangat jelas: sejak awal, Persija dan Persib tidak hanya bersaing dalam olahraga, tetapi memikul misi kebangsaan—melawan dominasi klub-klub kolonial dan membangun identitas sepak bola nasional.

Sepak bola kala itu bukan sekadar hiburan, melainkan alat perlawanan kultural.


2. Final Perserikatan 1931: Titik Nol Laga Klasik

Final Perserikatan I tahun 1931 mempertemukan VIJ melawan BIVB. Inilah titik nol rivalitas yang merupakan awal sejarah Persija vs Persib.

  • Persija (VIJ) keluar sebagai juara
  • Skor akhir tidak tercatat secara resmi
  • Kisah laga hidup melalui cerita lisan lintas generasi

Sejak momen ini, duel Jakarta vs Bandung menjelma menjadi ritual tahunan penuh gengsi—bukan hanya soal menang dan kalah, tetapi tentang siapa yang lebih merepresentasikan kebanggaan kota.


3. Era Dominasi Perserikatan (1930–1970-an)

Pada era Perserikatan—kompetisi tertua di Indonesia—Persija dan Persib menjadi dua poros utama sepak bola nasional.

Prestasi era Perserikatan:

  • Persija: 9 gelar juara
  • Persib: 5 gelar juara

Keduanya bersaing ketat dengan Persis Solo, PSM Makassar, PSMS Medan, dan Persebaya Surabaya.

📌 Fakta penting yang sering terlupakan:
Perserikatan bukan liga profesional. Klub-klub besar membentuk tim dari pemain terbaik liga internal kota. Artinya, kemenangan Persija adalah kemenangan Jakarta, dan kemenangan Persib adalah kemenangan Bandung.

Inilah yang membuat rivalitas terasa sangat personal dan emosional.


4. Transisi ke Era Modern: Liga Indonesia (1994–2007)

Tahun 1994, Perserikatan dilebur dengan Galatama menjadi Liga Indonesia. Profesionalisme mulai diterapkan, tetapi rivalitas sejarah Persib Vs Persija justru menemukan bentuk baru.

Momen penting:

  • Persib juara Liga Indonesia 1994/95
  • Persija juara Liga Indonesia 2001

Namun menariknya, keduanya tidak saling menjegal dalam perebutan gelar juara. Rivalitas tetap panas, tetapi lebih didorong oleh sejarah, gengsi, dan identitas, bukan kalkulasi klasemen.

Bagi pemain, laga ini selalu “lain”—seperti diakui banyak legenda Persija dan Persib—karena tekanan emosionalnya jauh lebih besar dibanding pertandingan lain.


5. Babak Gelap: Rivalitas Suporter (1999–2018)

Mulai akhir 1990-an, persaingan bergeser dari lapangan ke tribun.

  • The Jakmania (Persija)
  • Bobotoh (Persib)

Ketegangan meningkat drastis. Beberapa laga harus:

  • Ditunda
  • Dipindahkan ke venue netral
  • Berakhir WO
  • Dijaga aparat secara ekstrem

Tragedi yang Tak Terlupakan

Beberapa korban jiwa menjadi luka kolektif sepak bola Indonesia:

  • Haringga Sirila (2018)
  • Ricko Andrean (2017)
  • Harun Al Rasyid Lestaluhu (2016)

⚠️ Penting ditegaskan:
Tragedi ini bukan cerminan klub atau mayoritas suporter, melainkan kegagalan ekosistem sepak bola—regulasi, keamanan, dan edukasi—dalam mengelola rivalitas besar.


6. Era Liga 1: Menuju Rivalitas yang Lebih Dewasa (2017–Sekarang)

Sejak Liga 1 berjalan, ada upaya serius menata ulang laga Persija vs Persib:

  • Pengamanan diperketat
  • Venue netral diterapkan
  • Dialog antar suporter difasilitasi
  • Kampanye sportivitas digencarkan

Contoh laga yang relatif kondusif:

  • Liga 1 2019
  • Final Piala Menpora 2021

Rivalitas tidak hilang—tapi lebih terkendali dan dewasa.


7. Statistik Lengkap: Angka yang Bicara

Head-to-Head Keseluruhan (s.d. 16 Februari 2025)

  • Total pertandingan: 180
  • Persib menang: 62
  • Persija menang: 51
  • Imbang: 54
  • Unknown/TBD: 12
  • Total gol: 441
    • Gol Persib: 230
    • Gol Persija: 211
  • Rata-rata gol: ±2,45 gol/laga

Era Profesional (Liga Indonesia – Liga 1)

  • Total laga: 51
  • Persija menang: 19
  • Persib menang: 12
  • Imbang: 20

➡️ Kesimpulan statistik:
Persib unggul total kemenangan sepanjang sejarah, sementara Persija relatif lebih unggul di era profesional awal. Rivalitas sejarah Persib Vs Persija ini tidak pernah timpang.


8. Fakta Menarik yang Jarang Dibahas

  • Derby lintas rezim: Persija vs Persib dimainkan di era kolonial, Orde Lama, Orde Baru, Reformasi, hingga era digital.
  • Banyak pemain “menyebrang”: Marc Klok, Rezaldi Hehanussa, Tony Sucipto, Maman Abdurrahman, hingga Atep Rizal pernah merasakan dua sisi rivalitas.
  • Top skor derby: Bambang Pamungkas menjadi pencetak gol terbanyak dalam duel ini.
  • Venue saksi sejarah: Ikada, Menteng, Siliwangi, GBK, hingga stadion netral di luar Jawa.

9. Mengapa Persija vs Persib Lebih dari Sekadar Derby?

Karena rivalitas ini adalah:

  • Rivalitas kota terbesar di Indonesia
  • Pertemuan dua klub pendiri bangsa
  • Simbol Jakarta vs Bandung
  • Memori lintas generasi
  • Narasi media, budaya, dan politik sosial

Ini bukan El Clasico Indonesia.
Ini adalah arsip hidup sepak bola nasional.


10. Masa Depan Rivalitas: Panas Tanpa Darah

Rivalitas Persija vs Persib harus tetap panas, karena tanpa rivalitas, sepak bola kehilangan rasa. Namun panas itu harus berada di tempat yang benar:

  • 🔥 Panas di lapangan
  • 🧠 Panas di strategi
  • 🎨 Panas di kreativitas suporter
  • ❌ Bukan panas di jalanan

Sepak bola lahir dari rakyat untuk pemersatu bangsa—bukan ajang kehilangan nyawa.


Penutup

Selama sepak bola Indonesia masih dimainkan, Persija vs Persib akan selalu dinanti. Bukan untuk mencari musuh, tetapi untuk mengingat dari mana sepak bola Indonesia berasal.

Rival boleh abadi.
Sportivitas harus lebih abadi.

www.afachannel.com

@afachannel805 – tiktok dan youtube

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *