Beranda / Olahraga / Juventus Terpuruk: Kalah dari Como dan Real Madrid, Era Igor Tudor Diuji

Juventus Terpuruk: Kalah dari Como dan Real Madrid, Era Igor Tudor Diuji

Juventus terpuruk

Juventus Terpuruk

Turin, 23 Oktober 2025 – Pekan yang berat melanda Juventus.
Dua kekalahan beruntun — 0–2 dari Como 1907 di Serie A dan 0–1 dari Real Madrid di Liga Champions — membuat tekanan terhadap pelatih Igor Tudor semakin besar.
Tanpa satu pun gol dalam dua pertandingan, Juventus kini menghadapi pertanyaan mendasar: apakah sistem baru mereka benar-benar berjalan, atau justru mulai kehilangan arah?


💥 Dari Giuseppe Sinigaglia, Mimpi Buruk Dimulai

Hari Minggu, 19 Oktober 2025, mungkin akan dikenang fans Juventus sebagai salah satu titik terendah musim ini.
Di Stadion Giuseppe Sinigaglia, Juventus datang sebagai favorit. Lawannya, Como 1907, hanyalah tim promosi yang baru kembali ke Serie A setelah lebih dari dua dekade absen.
Namun, di lapangan, segalanya berjalan terbalik.

Sejak peluit pertama, Como tampil percaya diri. Mereka menekan lebih cepat, mengalirkan bola dengan tajam, dan langsung mencetak gol cepat di menit ke-4.
Adalah Marc-Oliver Kempf yang membuka skor melalui sepakan kaki kiri memanfaatkan sodoran Nico Paz dari skema sepak pojok. Juventus terpuruk tampak terkejut dan kehilangan arah.

Upaya balasan datang dari Francisco Conceição di menit ke-18, namun tembakannya melenceng jauh.
Sementara Como terus menekan lewat Álvaro Morata, Maxime Perrone, dan pemain muda Nico Paz, yang tampil luar biasa di lini tengah.

Juventus mencoba memperbaiki ritme di babak kedua, tapi tetap gagal menciptakan peluang bersih.
Justru di menit ke-79, Nico Paz — pemain pinjaman dari Real Madrid — menggandakan keunggulan.
Ia menyambut umpan terobosan Maxime Perrone dan menaklukkan Michele Di Gregorio dengan tembakan datar ke tiang jauh.

Skor akhir 2–0 untuk Como. Stadion kecil di tepi Danau Como bergemuruh, sementara wajah para pemain Juventus tampak muram.


📉 Statistik Menampar Juventus

Meski unggul jauh dalam penguasaan bola (63 %), Juventus terpuruk hanya mencatat 14 tembakan, di mana 2 yang tepat sasaran.
Sebaliknya, Como tampil efektif — 5 tembakan ke gawang, dua di antaranya berbuah gol.

Data kunci pertandingan:

  • ⚽ Gol: Kempf (4’), Nico Paz (79’)
  • 🎯 Tembakan: Como 11 – 14 Juventus
  • 💥 On Target: Como 5 – 2 Juventus
  • 📊 Penguasaan Bola: Como 37 % – 63 % Juventus
  • 🧤 Clean Sheet: Jean Butez (Como)

Juventus bahkan kalah dalam duel udara (48%) dan intersepsi bola.
Permainan mereka terlihat datar, seolah kehilangan ide di sepertiga akhir lapangan.


🎙️ Tudor: “Kami Kalah Fokus, Bukan Kualitas”

Usai pertandingan, pelatih Igor Tudor mengakui kekalahan itu sangat mengecewakan.
Namun ia menolak menyalahkan pemainnya sepenuhnya.

“Kami kehilangan fokus di menit-menit awal dan membayar mahal.
Kami tidak kalah dalam kualitas, tapi dalam reaksi.
Como bermain dengan intensitas tinggi, sedangkan kami terlalu pasif,” ujar Tudor kepada DAZN Italia.

Tudor juga menegaskan bahwa Juventus sedang berada di fase transisi setelah perubahan struktur permainan yang ia terapkan sejak awal musim dan tidak setuju Juventus terpuruk.
Ia tetap percaya diri bahwa sistem pressing dan build-up cepat yang ia usung akan segera menghasilkan hasil positif.


⚽ Lanjut ke Bernabéu: Kalah, tapi Tak Menyerah

Beberapa hari kemudian, Juventus terpuruk kembali harus menghadapi tantangan berat di panggung Eropa.
Mereka bertandang ke Santiago Bernabéu menghadapi Real Madrid dalam laga matchday ketiga fase grup UEFA Champions League 2025/26.

Kali ini Juventus tampil lebih disiplin. Tudor menurunkan formasi 3-4-2-1 dengan Kenan Yildiz dan Jonathan David sebagai dua penyerang bayangan di belakang Dusan Vlahović.
Namun, Real Madrid yang dilatih Xabi Alonso tetap tampil dominan.

Setelah babak pertama berakhir tanpa gol, Jude Bellingham kembali jadi pembeda.
Di menit ke-68, pemain muda Inggris itu memanfaatkan bola muntah hasil tepisan Michele Di Gregorio, dan menembak keras ke pojok gawang.

Juventus sebenarnya punya beberapa peluang melalui Koopmeiners dan Thuram, tetapi penyelesaiannya tidak maksimal.
Pertandingan berakhir 1–0 untuk Madrid — kekalahan kedua Juve dalam waktu empat hari.


📊 Statistik Real Madrid vs Juventus

  • ⚽ Gol: Jude Bellingham (68’)
  • 💥 Tembakan: Madrid 16 – 9 Juventus
  • 🎯 On Target: Madrid 6 – 3 Juventus
  • 📊 Penguasaan Bola: Madrid 53 % – 47 % Juventus
  • 🧤 Penyelamatan: Di Gregorio 11 kali (terbanyak di matchday 3 UCL)

Michele Di Gregorio menjadi pemain terbaik Juventus malam itu.
Tanpa refleks cepatnya menahan tembakan Vinícius Jr dan Rodrygo, skor bisa saja lebih telak.


🧠 Analisis: Masalah Ketajaman, Bukan Struktur

Dari dua laga itu, terlihat jelas: Juventus terpuruk namun tidak kehilangan identitas, tapi kehilangan efektivitas.
Mereka masih menguasai bola, masih disiplin secara struktur, tetapi kehilangan insting membunuh di depan gawang.

Dusan Vlahović, yang diharapkan menjadi tumpuan gol, belum mencetak satu pun dalam empat pertandingan terakhir.
Sementara Teun Koopmeiners belum menunjukkan kreativitas yang konsisten sebagai pengatur serangan.

“Kami menciptakan peluang, tapi tidak mencetak gol.
Itu soal mentalitas, bukan sekadar taktik,”
kata Tudor dalam konferensi pers usai laga di Bernabéu.

Statistik menunjukkan Juventus terpuruk mencatat rata-rata 1,1 expected goals (xG) per laga, namun gagal mencetak satu pun dalam dua pertandingan terakhir — sinyal bahwa penyelesaian akhir mereka mandek.


🧤 Cahaya dari Di Gregorio

Satu hal positif dari dua kekalahan ini adalah performa Michele Di Gregorio.
Rekrutan baru dari Monza ini tampil gemilang dengan total 15 penyelamatan dalam dua laga.

Penyelamatan refleksnya melawan Madrid membuatnya mendapat pujian luas di Italia.
La Gazzetta dello Sport menulis:

“Jika bukan karena Di Gregorio, Juventus sudah kebobolan empat gol malam itu.”

Ketika lini serang mandek, kiper 28 tahun itu justru menjadi simbol semangat baru — tenang, berani, dan efisien dalam distribusi bola.


🧱 Pertahanan Mulai Goyah

Masalah besar lain muncul di belakang.
Trio Danilo – Bremer – Rugani masih belum sepenuhnya solid.
Dalam tiga laga terakhir, Juventus kebobolan 5 gol, dan sebagian besar datang dari serangan balik cepat atau kesalahan positioning.

Para fullback, terutama Andrea Cambiaso dan Pierre Kalulu, sering naik terlalu tinggi, meninggalkan ruang yang dimanfaatkan lawan.
Tudor menyadari hal itu dan berjanji memperbaiki keseimbangan antara menyerang dan bertahan.

“Kami terlalu terbuka. Saya ingin pressing tinggi, tapi harus diimbangi dengan transisi cepat saat kehilangan bola,” katanya.


📊 Statistik Juventus (Per 23 Oktober 2025)

StatistikDataCatatan
Dua Laga TerakhirComo 0–2 ❌, Real Madrid 0–1 ❌Dua kekalahan beruntun
Gol Dicetak0Dalam dua laga terakhir
Gol Kebobolan3
Rata-rata Penguasaan Bola54 %Dominan tapi tidak efisien
Tembakan per Laga11,2Hanya 2–3 yang on target
Expected Goals (xG)1,1Tanpa hasil konkret
Clean Sheet0Dalam 3 laga terakhir
Penyelamatan Di Gregorio11 (vs Madrid)Tertinggi di UCL MD3

🕓 Jadwal Juventus Selanjutnya

TanggalKompetisiLawanWaktu (WIB)
26 Oktober 2025Serie ALazio23.30
30 Oktober 2025Serie AEmpoli00.30
5 November 2025Liga Champions MD4Paris Saint-Germain03.00
9 November 2025Serie ANapoli02.45

🗣️ Tudor Tetap Tenang

Di tengah kritik tajam media dan fans, Igor Tudor tetap mempertahankan ketenangannya.
Ia yakin timnya sedang dalam fase pembelajaran dan bahwa hasil buruk ini akan berbalik seiring waktu.

“Kami kalah dua kali, tapi bukan karena kalah kualitas. Ini tentang detail, konsentrasi, dan efisiensi.
Kami Juventus — kami tahu bagaimana bangkit,” tegasnya.

Kapten Danilo mendukung pelatihnya:

“Tudor membawa filosofi baru. Kami butuh waktu untuk memahami semuanya. Kami kalah, tapi kami berkembang.”


💬 Kesimpulan

Dua kekalahan beruntun dari Como dan Real Madrid bukan sekadar angka di papan skor — ini adalah peringatan keras.
Juventus sedang berada di persimpangan jalan: sistem baru Igor Tudor menjanjikan permainan progresif, tapi tanpa gol dan hasil, proyek itu bisa kehilangan dukungan.

Namun di balik semua kritik, ada hal-hal positif yang layak dicatat:

  • Michele Di Gregorio tampil menawan.
  • Struktur pressing mulai terbentuk.
  • Pemain muda seperti Kenan Yildiz dan Francisco Conceição mulai mendapat menit bermain penting.

Dengan jadwal berat melawan Lazio, PSG, dan Napoli menanti, Oktober ini bisa menjadi bulan penentu nasib Juventus.
Apakah Tudor mampu membawa timnya bangkit, atau justru masuk ke fase krisis yang lebih dalam?

“Kami kalah, tapi kami belum selesai,” – Igor Tudor, usai laga di Madrid.

Ikuti terus afachannel.com

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *